Banyak Tak Paham Manfaat JHT dan Jaminan Pensiun, BPJS Ketenagakerjaan Rajin Sosialisasi

Banyak Tak Paham Manfaat JHT dan Jaminan Pensiun, BPJS Ketenagakerjaan Rajin Sosialisasi

Krisnha Syarif (tengah) bersama Setiadji (kiri) dan Dodo Suharto (kanan) serta perwakilan pengusaha

SURABAYA (SurabayaPost.id) - Banyak pihak yang belum paham dan tahu tentang manfaat ikut kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Karena itulah, Kantor Wilayah Jawa Timur (Kanwil Jatim) BPJS Ketenagakerjaan menggelar lokakarya di Hotel JW Marriot Surabaya, Kamis (9/8/2018).

Lokakarya ini digelar untuk mendengarkan aspirasi dari pemangku kepentingan dan juga pekerja, dengan tema “Sudah Sejahterakah Hari Tua Pekerja Bersama BPJS Ketenagakerjaan?“.

"Kami ingin semua pemimpin perusahaan, pejabat, pekerja, paham akan manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan khususnya manfaat Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun. Mereka memberikan kepeduliannya, dan kami melayani," kata Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif.

Krishna berharap dukungan dari Pemprov dan juga stakeholder untuk bersama-sama memberikan masukan agar kesejahteraan pekerja dalam menghadapi masa tua dapat terwujud.

"Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun esensi manfaatnya belum banyak dipahami. Dan masih banyak belum tercover. Karena itu, kami lebih rajin sosialisasi," ungkap Krishna.

JHT merupakan program jaminan sosial yang diberikan kepada pekerja berupa uang tunai yang dibayarkan sekaligus saat peserta memasuki pensiun, meninggal dunia, atau mengalami cacat total tetap. Iuran terendahnya sebesar 5,7%.

Namun, sekitar 80% Peserta JHT cenderung ingin menarik untuk kebutuhan masa kini saat masih berada di usia produktif tapi berhenti bekerja.

"Ini tidak sesuai dengan ruhnya yang disebut Jaminan Hari Tua. Harusnya PP no 60 Tahun 2015 disempurkan lagi. Karena apa? kecenderungan penarikan dana JHT itu, supaya dikembalikan ke hari tua," ulasnya.

Sedangkan Jaminan Pensiun sebagai program baru diberikan setiap bulan saat pekerja memasuki masa pensiun 56 tahun atau mengalami cacat total permanen & atau meninggal dunia yang diberikan kepada pekerja atau ahli warisnya.

Jaminan Pensiun ini dipersiapkan bagi pekerja untuk tetap mendapatkan penghasilan bulanan di saat memasuki usia yang tidak lagi produktif. Skema manfaatnya sama persis dengan manfaat yang dinikmati oleh Aparatur Sipil Negara (ASN).

Jaminan Pensiun diharapkan dapat memberikan ketenangan dalam menjalani hari-hari di masa tuanya. Namun sayangnya, skema ini hanya memberikan nilai penggantian manfaat bulanan di hari tua sebesar 30% dari total pendapatan yang diterima pekerja di saat usia produktif.

"Hampir 5 tahun proses transformasi dari Jamsostek ke BPJS Ketenagakerjaan. Sudah saatnyalah mengevaluasi kembali peraturan Pemerintah terkait yang mengatur BPJS Ketenagakerjaan. Saya yakin masih banyak masyarakat yang belum paham manfaat. Karena kita perlu meningkatkan sosialisasinya," lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur, Setiadji menegaskan, pihaknya memiliki pengawas ketenagakerjaan.

Perusahaan yang tidak melaksanakan Kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan kepada pekerjanya tentu akan dilakukan tindakan-tindakan tegas. Terkait pensiun, dia menjelaskan bahwa Undang Undang menyatakan bahwa pensiun berada di usia 56 tahun, sementara angka harapan hidup 70 tahun lebih.

Karena itu, ada saran dari serikat pekerja perlu ada perubahan UU no13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan UU no 24 Tahun 2011 tentang BPJS.

"Intinya bahwa usia produktif semakin hari semakin panjang. Di Jatim, bonus demografi usia 15 sampai 64 tahun jumlahnya 60%. Artinya, usia pensiun menjadi 60 tahun itu masih produktif. Tanggungjawab negara tidak terlalu berat. Negara hadir dan BPJS Ketenagakerjaan hadir juga," jelas Setiadji.

Di tempat yang sama pula, Dodo Suharto (Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jatim) menerangkan jika di Jatim Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 2,7 juta peserta. Target tahun ini diharapkan bisa 3,5 juta peserta.

"Itu pun tidak semuanya mengikuti program Jaminan Pensiun," jelasnya.

(Jun/fan)

Dipost Oleh Junaidi

no bio

Post Terkait